JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dijalankan sepanjang bulan Ramadan dengan sejumlah penyesuaian dalam skema pelaksanaan dan menu yang disesuaikan dengan kebutuhan ibadah puasa masyarakat. Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan program ini akan lebih fleksibel menyesuaikan kondisi penerima manfaat tanpa mengurangi esensi pemenuhan gizi.
Empat Mekanisme Penyaluran MBG Selama Ramadan
Untuk menghadapi Ramadan, BGN menyiapkan empat mekanisme yang berbeda sesuai dengan kondisi penerima manfaat MBG. Dadan menjelaskan mekanisme ini berlaku agar layanan MBG tetap menjangkau berbagai kelompok masyarakat secara efektif meskipun mayoritas penerima menjalankan ibadah puasa.
Mekanisme pertama diterapkan di sekolah-sekolah di daerah dengan mayoritas siswa yang berpuasa. Pada konteks ini, makanan yang biasanya disajikan langsung di sekolah tetap dikirim, namun dalam bentuk yang lebih tahan lama sehingga bisa dibawa pulang dan dikonsumsi saat waktu berbuka. “Untuk anak sekolah di daerah yang mayoritas puasa, makanannya akan seperti biasa dikirim ke sekolah dalam bentuk makanan yang tahan dan bisa dibawa ke rumah untuk dikonsumsi pada saat buka,” jelas Dadan.
Mekanisme kedua berlaku di sekolah dengan mayoritas siswa yang tidak berpuasa. Untuk kelompok ini, layanan MBG tetap berjalan seperti biasa tanpa perubahan skema waktu maupun bentuk menu, sehingga anak-anak tetap mendapatkan asupan bergizi sesuai jadwal harian. “Kemudian, untuk anak sekolah di daerah yang mayoritas tidak puasa, pelayanan tetap normal,” tambah Dadan.
Kelompok ketiga adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita. BGN memastikan pelayanan untuk kelompok rentan ini tidak berubah dan tetap berjalan layaknya hari biasa, tanpa perubahan waktu konsumsi atau bentuk makanan yang diberikan. “Untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, juga normal,” ujar Dadan.
Mekanisme keempat ditujukan bagi lingkungan pesantren di mana lokasi dapur MBG dan penerima manfaat berada di dalam area yang sama. Pelayanan di pesantren tetap berjalan normal namun waktunya digeser menjadi sore hari menjelang berbuka agar konsumsi makanan lebih sesuai dengan jam berbuka puasa. “Untuk pesantren, karena penerima manfaatnya ada di dalam pesantren dan SPPG‑nya ada di dalam pesantren, maka pelayanannya akan digeser ke saat buka. Jadi masaknya siang hari, dikonsumsi pada saat buka,” tuturnya.
Menu MBG Disesuaikan dengan Ramadan
Penyesuaian skema tersebut tidak hanya dilakukan dari sisi waktu dan mekanisme layanan, tetapi juga dalam hal jenis makanan yang disalurkan. Karena sebagian besar penerima akan menjalankan puasa, BGN menyiapkan menu yang tahan lama serta mudah dibawa dari sekolah untuk dikonsumsi saat berbuka.
Dadan menjelaskan bahwa beberapa komponen menu yang dipilih antara lain kurma, telur rebus, telur asin, telur pindang, abon, buah, susu, dan aneka penganan lokal yang lazim disajikan di bulan Ramadan serta relatif tahan lama. Rangkaian menu ini juga diupayakan melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi lokal. “Kemudian, ada abon, buah, susu, dan penganan‑penganan lokal yang saya kira secara tradisional banyak disajikan di bulan Ramadan yang tahan lama. Kita hindarkan semaksimal produk‑produk perusahaan besar. Sesekali boleh, tapi tidak setiap hari,” jelas Dadan.
Di daerah yang mayoritas tidak berpuasa, BGN menegaskan layanan MBG tetap berjalan dengan menu segar seperti hari‑hari biasa, tanpa perubahan signifikan. Begitu pula bagi ibu hamil dan ibu menyusui serta balita, menu bergizi disajikan sesuai kebutuhan gizi mereka tanpa disesuaikan waktu. Pelayanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan pesantren juga tetap beroperasi normal, hanya waktunya yang disesuaikan menjelang berbuka puasa.
Strategi Pengendalian Bahan Pangan
Selain itu, BGN juga menyiapkan strategi untuk mengatur pengendalian bahan pangan selama Ramadan. Hal ini dilakukan agar permintaan terhadap komoditas tertentu tidak memicu lonjakan harga atau kekosongan stok di pasar. Jika permintaan terhadap satu komoditas dinilai berlebihan, menu akan dialihkan ke bahan substitusi yang tetap bergizi namun lebih stabil ketersediaannya. Dadan menjelaskan bahwa kerja sama dengan BUMD dan pihak terkait menjadi bagian dari strategi mengatur kebutuhan bahan pangan tersebut. “Kira‑kira produk apa yang dibutuhkan masyarakat secara umum untuk menjelang puasa dan juga Idul Fitri, nanti kita akan kurangi permintaannya di program Makan Bergizi,” ungkapnya.
Meningkatkan Efektivitas dan Akseptabilitas Program
Dengan penyesuaian skema ini, BGN berharap program MBG tidak hanya tetap berjalan selama Ramadan tetapi juga lebih efektif dalam menjawab kebutuhan penerima manfaat yang menjalankan ibadah puasa maupun yang tidak berpuasa. Penyesuaian menu yang mempertimbangkan tradisi makanan lokal serta waktu distribusi yang fleksibel diharapkan dapat meningkatkan penerimaan dan efektivitas program dalam menjaga kecukupan gizi masyarakat pada bulan suci ini.