JAKARTA - Harga kebutuhan pokok di provinsi Jawa Timur kembali menunjukkan dinamika yang signifikan pada Selasa, 10 Februari 2026. Di tengah berbagai jenis barang yang relatif stabil, salah satu komoditas paling sensitif yaitu cabai rawit tetap menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa hari terakhir, memicu perhatian konsumen maupun pelaku pasar terhadap prospek harga sembako secara keseluruhan di wilayah tersebut.
Fluktuasi Harian Harga Sembako di Pasar Jawa Timur
Pantauan pergerakan harga di pasar tradisional Jawa Timur mencatat perubahan yang fluktuatif pada berbagai komoditas kebutuhan pokok. Meskipun sebagian besar bahan pokok seperti beras, gula, dan minyak goreng tidak menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan hari sebelumnya, cabai rawit merah secara konsisten mengalami kenaikan harga dalam beberapa hari terakhir. Hal ini memberikan tekanan tambahan bagi konsumen yang bergantung pada komoditas tersebut dalam konsumsi harian mereka.
Menurut data yang dirilis dari sistem informasi harga pangan (Siskaperbapo) per pukul 11.38 WIB, beberapa harga komoditas pokok menunjukkan pergerakan sebagai berikut: beras premium dipatok di kisaran Rp14.837 per kilogram, gula kristal putih Rp16.563 per kilogram, minyak goreng curah Rp18.843 per liter, sementara daging ayam ras berada di sekitar Rp38.383 per kilogram. Sebagian besar harga ini masih relatif stabil dibanding hari sebelumnya.
Namun, cabai rawit merah tercatat sebagai salah satu komoditas yang mengalami kenaikan paling menonjol dengan harga mencapai sekitar Rp81.818 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan hari sebelumnya. Sementara komoditas cabai lain seperti cabai merah keriting dan cabai merah besar masing‑masing berada di angka sekitar Rp31.425 dan Rp29.592 per kilogram.
Faktor Penyebab Harga Rawit Naik
Para pelaku pasar dan analis menyatakan bahwa beberapa faktor berkontribusi pada kenaikan harga cabai rawit. Fluktuasi harga sembako pada umumnya dapat dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem yang mempengaruhi hasil panen, sehingga pasokan menjadi tidak stabil. Selain itu, ketidakpastian rantai pasok dan biaya distribusi yang meningkat juga turut berdampak pada harga di tingkat konsumen.
“Fluktuasi harga sembako bisa dipicu oleh berbagai sebab, mulai dari cuaca ekstrem yang menyebabkan gagal panen. Selain itu, tidak stabilnya harga bahan bakar, naik turunnya permintaan konsumen, hingga kebijakan pemerintah juga dapat berdampak terhadap naik turunnya harga sembako,” demikian dijelaskan dalam laporan pemantauan harga yang dirilis hari ini.
Karena sifatnya yang musiman dan sangat dipengaruhi oleh pasokan, cabai rawit umumnya menjadi komoditas yang cepat merespon perubahan kondisi pasar. Permintaan yang tetap tinggi disertai pasokan yang belum mampu mengikuti juga menjadi salah satu alasan utama kenaikan harga cabai rawit tersebut.
Dampak Bagi Konsumen dan Perilaku Belanja
Kenaikan ini tentu membawa implikasi langsung pada pola belanja masyarakat, khususnya rumah tangga kelas menengah ke bawah yang sangat bergantung pada kebutuhan pokok sehari‑hari. Bagi sebagian konsumen, fluktuasi harga ini berpotensi menggeser anggaran belanja bulanan karena komoditas seperti cabai sering kali menjadi bagian rutin dari daftar belanja.
Beberapa konsumen bahkan memilih untuk mengurangi konsumsi cabai atau beralih ke komoditas pengganti yang lebih terjangkau sementara waktu. Di sisi lain, pedagang pasar juga merespons kondisi ini dengan menyesuaikan stok mereka agar tidak menanggung kerugian akibat harga yang terus berubah. Upaya ini dilakukan agar stok barang tetap tersedia namun tetap menguntungkan secara ekonomi.
Catatan Penting Bagi Pelaku Usaha dan Pemerintah
Para pelaku usaha kecil dan menengah yang bergantung pada harga stabil dari barang kebutuhan pokok menyatakan perlunya koordinasi yang lebih intensif dengan pemerintah maupun lembaga terkait untuk mengantisipasi gejolak harga. Mereka berharap adanya strategi yang lebih efektif, termasuk pemantauan yang lebih ketat serta kemungkinan intervensi pasar jika diperlukan.
Sementara itu, pemerintah daerah maupun pusat terus memantau kondisi ini melalui sistem pemantauan harga dan berupaya mengeluarkan kebijakan yang dapat mendorong stabilitas harga bahan pokok. Di antaranya melalui operasi pasar, pengaturan pasokan, dan komunikasi dengan para petani serta distributor agar fluktuasi harga tidak memberi beban berlebihan bagi konsumen di tingkat bawah.
Rekomendasi Bagi Konsumen
Para pakar ekonomi menyarankan masyarakat untuk lebih aktif memantau pergerakan harga sehari‑hari agar bisa merencanakan belanja dengan lebih baik. Dengan mengetahui tren harga, konsumen bisa menyesuaikan waktu belanja atau komoditas yang dibeli untuk mengurangi tekanan anggaran.
Semakin cepat dan akurat informasi harga tersampaikan kepada publik, semakin besar pula peluang konsumen untuk mengantisipasi perubahan dan mengambil keputusan belanja yang lebih cerdas dalam menghadapi fluktuasi harga sembako yang terus berlangsung ini.