BARCELONA

BARCELONA: Laporta Mundur dari Kursi Presiden untuk Bersaing Kembali

BARCELONA: Laporta Mundur dari Kursi Presiden untuk Bersaing Kembali
BARCELONA: Laporta Mundur dari Kursi Presiden untuk Bersaing Kembali

JAKARTA - Presiden FC Barcelona, Joan Laporta, secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada 9 Februari 2026 untuk membuka jalan bagi proses pemilihan presiden klub yang dijadwalkan berlangsung pada 15 Maret 2026. Pengunduran diri ini merupakan langkah strategis sesuai aturan dalam statuta klub yang mewajibkan presiden aktif mundur apabila ingin mencalonkan diri lagi dalam pemilu internal Barcelona.

Laporta dan Dewan Direksi Mundur Secara Kolektif

Pengunduran diri Laporta diformalkan dalam rapat Dewan Direksi Barcelona yang berlangsung pada Senin lalu, di mana klub juga mengumumkan secara resmi jadwal pemilihan presiden baru. Selain Laporta, sejumlah anggota dewan direksi ikut menyatakan mundur untuk bisa terlibat langsung dalam proses pemilihan ulang. Hal ini meliputi para wakil presiden dan sejumlah direktur lain yang memilih fokus pada kampanye calon presiden.

Ini bukanlah mundur permanen, melainkan langkah prosedural yang diwajibkan oleh Pasal 42.f Statuta FC Barcelona agar Laporta memenuhi persyaratan untuk kembali mencalonkan diri. Perubahan ini menandai dimulainya fase krusial dalam kehidupan politik klub Catalan terbesar tersebut.

Statuta Klub dan Peralihan Kepemimpinan Sementara

Menurut statuta klub, presiden yang ingin mencalonkan diri kembali tidak boleh menjabat secara aktif di masa kampanye. Oleh karena itu, posisi presiden diserahkan kepada wakil presiden klub, Rafael Yuste, yang kini akan menjabat sebagai presiden sementara hingga hasil pemilihan diumumkan dan presiden baru resmi dilantik pada 1 Juli 2026. Selama periode transisi, operasional harian klub akan tetap berjalan di bawah kelompok direksi yang dipimpin oleh Yuste.

Langkah ini mengikuti tradisi prosedural yang memastikan bahwa calon peserta pemilu tidak menggunakan fasilitas jabatan untuk keuntungan kampanye secara tidak adil. Para anggota dewan yang menetap akan mengurus tanggung jawab manajerial sehari-hari sampai masa jabatan berakhir.

Persaingan di Pemilihan Presiden Barcelona

Dengan mundurnya Laporta, Barcelona kini memasuki fase kompetisi politik klub yang intens. Laporta berencana untuk tetap bertarung dalam pemilihan presiden, berharap mendapatkan mandat ketiga dari anggota klub. Beberapa tokoh lain diperkirakan akan mencalonkan diri dalam pemilu tersebut, termasuk rival-rival lama yang sudah mempersiapkan kampanye mereka di berbagai wilayah Barcelona.

Persaingan menuju kursi presiden dijadwalkan berlangsung ketat karena keputusan ini akan menentukan arah masa depan klub, baik dari sisi politik internal maupun perencanaan strategi sepak bola di masa mendatang. Barcelona juga akan menetapkan sejumlah lokasi tempat pemungutan suara di wilayah Catalonia dan Andorra sebagai bagian dari proses demokratis ini.

Reaksi dan Harapan Laporta

Laporta sendiri menyatakan optimisme menjelang pemilu dan berharap proses ini dapat berlangsung secara transparan, adil, dan menjadi contoh yang baik dalam penyelenggaraan pemilihan internal klub sepak bola besar. Dalam pernyataan resminya, ia menggambarkan pengunduran dirinya sebagai sebuah tahap penting bagi klub dalam situasi politik yang dinamis menjelang pemilihan.

Selain itu, pengunduran diri ini terjadi di tengah sorotan tajam terhadap Barcelona, termasuk dinamika hubungan klub dengan kompetisi besar lain seperti European Super League, yang klub tersebut telah tinggalkan dalam beberapa hari terakhir sebagai bagian dari pendekatan strategis yang lebih luas.

Dampak Kepemimpinan Baru dan Tantangan Klub

Pemilihan presiden Barcelona selalu menjadi momen penting dalam sejarah klub Catalan. Keputusan pemimpin baru nanti akan berdampak pada kebijakan olahraga, stabilitas finansial, dan citra klub di panggung sepak bola Eropa maupun global. Selain itu, pertarungan ini juga menjadi indikator bagaimana anggota dan suporter klub menilai kinerja pendahulu, termasuk pencapaian dan tantangan yang dihadapi Barcelona di bawah era kepemimpinan Laporta yang kini berakhir secara prosedural.

Dengan mundurnya Laporta, Barcelona resmi memasuki fase demokrasi internal yang intens, di mana proses pemilihan dan kandidat yang muncul akan menjadi perhatian utama publik dan suporter klub dalam beberapa pekan mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index