PLN Perkuat Energi Bersih untuk Dorong Praktik Pertambangan Hijau Berkelanjutan Nasional

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:38:40 WIB
PLN Perkuat Energi Bersih untuk Dorong Praktik Pertambangan Hijau Berkelanjutan Nasional

JAKARTA - PT PLN (Persero) terus mengakselerasi transisi energi di sektor industri dengan memperkuat penerapan energi bersih di perusahaan pertambangan, sebagai bagian dari upaya mendorong praktik green mining sekaligus menekan emisi gas rumah kaca. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan perjanjian jual beli Renewable Energy Certificate (REC) antara PT PLN Unit Induk Distribusi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dengan PT Borneo Indobara (BIB), yang menambah pembelian REC sebanyak 23.040 unit atau setara 40.000 megavolt ampere (MVA) listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).

Percepatan Transisi Energi di Sektor Pertambangan

Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam mendorong industri pertambangan Indonesia bertransformasi menuju operasional yang lebih ramah lingkungan. Melalui pemanfaatan REC, perusahaan pertambangan dapat mengklaim penggunaan energi hijau tanpa harus membangun infrastruktur pembangkit EBT sendiri. Skema ini dinilai efektif untuk mempercepat adopsi energi bersih, terutama di sektor industri yang memiliki kebutuhan listrik besar dan berkelanjutan.

Direktur Retail dan Niaga PLN Adi Priyanto menegaskan bahwa kerja sama tersebut merupakan bentuk dukungan konkret PLN terhadap agenda transisi energi industri nasional. Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026, ia mengatakan, “PLN berkomitmen penuh untuk mendukung daya saing industri nasional dengan mendorong penggunaan energi bersih yang ramah lingkungan melalui layanan listrik hijau 100 persen yang dipasok oleh pembangkit berbasis EBT.”

Menurut Adi, kehadiran REC memberikan fleksibilitas bagi pelanggan industri untuk memenuhi target keberlanjutan dan pengurangan emisi, tanpa mengganggu kontinuitas operasional. Sertifikat digital tersebut mewakili atribut lingkungan dari satu megawatt hour listrik yang berasal dari sumber energi terbarukan, seperti surya, air, dan panas bumi.

Peran Strategis Renewable Energy Certificate

REC menjadi instrumen penting dalam memastikan bahwa konsumsi listrik pelanggan benar-benar disertai kontribusi energi terbarukan, meskipun secara teknis aliran listrik tetap melalui jaringan umum PLN yang memadukan berbagai sumber energi. Dengan sistem pencatatan dan pelacakan elektronik, REC menjamin transparansi serta keabsahan klaim penggunaan energi hijau.

Adi menjelaskan, melalui mekanisme ini, perusahaan dapat tetap fokus pada core business tanpa terbebani investasi besar di sektor pembangkitan. “Dengan membeli REC, perusahaan tidak perlu membangun langsung infrastruktur EBT sendiri, tetapi tetap bisa mengklaim penggunaan listrik hijau untuk memenuhi target keberlanjutan, pengurangan emisi, dan tuntutan konsumen atau regulator,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa transaksi REC bukan sekadar aktivitas jual beli sertifikat, melainkan langkah nyata memperkuat daya saing industri Indonesia di tengah tuntutan global terhadap dekarbonisasi dan peningkatan praktik keberlanjutan. Upaya ini sekaligus menempatkan industri nasional agar mampu bersaing di pasar global yang semakin menekankan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola.

Tren Positif Permintaan Energi Hijau

Permintaan terhadap REC di Indonesia menunjukkan tren yang signifikan. Sepanjang 2024, pengguna REC atau konsumsi energi hijau tercatat mencapai lebih dari 10,9 terawatt hour (TWh), meningkat lebih dari 117 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kesadaran industri terhadap pentingnya pengurangan jejak karbon serta pemenuhan tuntutan pemangku kepentingan.

“Kenaikan minat ini juga mencerminkan meningkatnya kesadaran industri dalam memenuhi tuntutan pemangku kepentingan untuk meminimalkan jejak karbon,” kata Adi.

Tren tersebut memperlihatkan bahwa pelaku industri, termasuk sektor pertambangan, mulai menempatkan aspek keberlanjutan sebagai bagian integral dari strategi bisnis. Dorongan pasar global, regulasi pemerintah, serta tuntutan konsumen menjadi faktor pendorong utama percepatan adopsi energi bersih di Indonesia.

Komitmen BIB Dukung Green Mining

Sementara itu, Chief Operating Officer PT Borneo Indobara Raden Utoro mengapresiasi komitmen PLN yang mendukung penuh pelaksanaan program Green Mining Realization di lingkungan operasional perusahaan. Ia menilai kerja sama ini krusial, mengingat keandalan pasokan listrik menjadi kebutuhan mutlak bagi kegiatan pertambangan.

“Kerja sama ini sangat krusial karena keandalan pasokan listrik menjadi kebutuhan mutlak, mengingat gangguan pasokan dapat menghentikan seluruh aktivitas operasional tambang,” katanya.

Raden Utoro menyampaikan bahwa dukungan teknis dan infrastruktur ketenagalistrikan, termasuk transmisi dan pembangunan gardu induk, akan menopang kebutuhan daya puncak yang diperkirakan mencapai 200–240 MVA pada 2028. Hal ini sejalan dengan rencana ekspansi dan modernisasi operasional perusahaan.

Ia juga mengungkapkan bahwa program elektrifikasi alat berat berbasis listrik menjadi salah satu pilar utama transformasi BIB menuju pertambangan rendah emisi. Target elektrifikasi pada 2026 mencapai 25 persen armada, meningkat menjadi 75 persen pada 2028, serta membidik target nol emisi pada 2028–2029. Program ini disebut sebagai yang pertama di Indonesia untuk skala besar di sektor pertambangan.

Dukungan Infrastruktur dan Pencapaian Regional

General Manager PLN UID Kalselteng Iwan Soelistijono menyambut positif keputusan PT BIB untuk menambah pembelian REC. Ia menegaskan bahwa penjualan 23.040 unit REC tersebut merupakan pencapaian terbesar di wilayah Kalimantan, sekaligus menjadi indikator kuat meningkatnya kepercayaan industri terhadap layanan listrik hijau PLN.

Keberhasilan ini juga menunjukkan kesiapan infrastruktur PLN dalam mendukung kebutuhan listrik industri skala besar berbasis energi terbarukan. Dengan jaringan transmisi yang andal serta pasokan EBT yang terus diperluas, PLN berupaya memastikan bahwa transformasi energi dapat berjalan tanpa mengorbankan stabilitas pasokan.

Menurut Iwan, kolaborasi dengan PT BIB diharapkan menjadi benchmark bagi perusahaan pertambangan lain di Indonesia untuk beralih ke energi bersih. Sinergi antara BUMN penyedia listrik dan pelaku industri dinilai krusial dalam mempercembat pencapaian target transisi energi nasional.

Menuju Industri Tambang Berkelanjutan

Langkah PLN memperkuat penerapan energi bersih di sektor pertambangan menandai fase penting dalam perjalanan Indonesia menuju ekonomi rendah karbon. Upaya ini tidak hanya berkontribusi terhadap pencapaian target pengurangan emisi nasional, tetapi juga memperkuat daya saing industri di pasar global.

Dengan dukungan kebijakan, inovasi teknologi, dan kemitraan strategis, transformasi energi di sektor pertambangan diharapkan mampu menciptakan nilai tambah berkelanjutan. Praktik green mining yang didorong melalui penggunaan REC menjadi fondasi penting bagi industri tambang yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berdaya saing tinggi.

Ke depan, konsistensi dalam memperluas pemanfaatan energi terbarukan serta peningkatan kesadaran industri akan menjadi kunci keberhasilan transisi energi. Kolaborasi PLN dan PT BIB menunjukkan bahwa perubahan menuju praktik bisnis berkelanjutan bukan sekadar wacana, melainkan langkah nyata yang mulai terwujud di lapangan.

Terkini